FUNGSI PRETREATMEN PENCELUPAN

Proses pretreatment adalah proses yang dilalui oleh suatu bahan tekstil dengan tujuan mengoptimalkan hasil dari proses pencelupan. Proses pencelupan sendiri adalah proses pemberian warna bahan atau proses penyerapan zat warna oleh bahan. Proses pencelupan ini sangat penting dalam alur proses industri tekstil karena persoalan warna menyangkut diterima atau ditolaknya hasil produksi kain oleh pembeli sehingga proses pencelupan ini perlu ditopang proses sebelumnya. Bahan yang dicelup dapat berbentuk serat, benang, atau kain. Bentuk bahan tekstil berbeda, membutuhkan penanganan proses pretreatment yang berbeda pula. Tetapi secara garis besar dapat diambil 3 fungsi utama proses pretreatment sebelum pencelupan.

1. Menghilangkan zat-zat yang menghalangi penyerapan zat warna

Kain mentah / kain grey adalah kain yang baru dibuat baik dari proses pertenunan ataupun perajutan. Selama proses pembuatan kain, benang mengalami gesekan dan beban tarikan sehingga resiko penurunan kekuatan dan putus tidak dapat dihindari. Untuk meminimalisir resiko tersebut, benang lusi diberi lapisan kanji untuk mengurangi friksi sekaligus meningkatkan kekuatan benang agar tahan selama proses pembuatan. Lapisan kanji yang ditambahkan pada proses pembuatan kain dan kotoran lain semisal tempelan pelumas dari mesin dapat menghambat penyerapan zat warna. Proses pretreatment untuk penghilangkan zat penghambat tersebut disebut proses desizing (penghingan kanji) atau washing (pencucian). Prinsip kerjanya sederhananya adalah dengan melarutkan kanji / minyak pada bahan dengan larutan alkali.

2. Meningkatkan hasil ketajaman warna pencelupan

Nilai ketajaman warna bahan yang diproses pencelupan perlu diperhatikan karena warna yang dihasikan harus sama dengan yang diminta oleh buyer. Apabila tidak sesuai dengan batas toleransi akurasi warna yang diminta maka hasil pencelupan akan di tolak/reject, sehingga bahan harus di celup ulang untuk memperbaiki warna agar sampai memenuhi standar yang diminta. Proses pencelupan ulang ini dapat dilakukan lebih dari 2x sampai warna memenuhi permintaan tetapi tentunya bahan tekstil baik yang berbentuk kain atau benang apabila keluar masuk mesin pencelupan terus-terusan berakibat pada penurunan kekuatan yang beresiko bahan menjadi rapuh/getas nantinya.
Analogi sederhana untuk menjelaskan hasil ketajaman warna mungkin sama dengan kita mewarnai pelangi dengan dasar kertas putih dan dasar kertas buram, hasilnya pasti warna pelangi pada dasar kertas putih lebih tajam daripada kertas buram. Sifat buram pada bahan tekstil ini biasanya adanya pada serat-serat alam sebagai akibat dari warna pigmen alami yang berwarna kekuningan dari serat. Proses pretreatment untuk menghilangkan pigmen alam ini dinamakan juga proses bleacing atau proses pemutihan.
Proses pretreatmen ini terkadang kondisional dilakukan di industri, apabila permintaan pencelupan untuk warna-warna terang biasanya bahan diproses bleaching terlebih dahulu, tetapi apabila pencelupan yang diminta untuk warna-warna gelap atau tua, terkadang proses bleaching dilewat karena warna pigmen alam tidak begitu berpengaruh pada ketajaman warna, disamping itu juga dapat menghemat biaya produksi.

3. Meningkatkan daya serap terhadap zat warna

Di industri tekstil pemilihan jenis zat warna biasanya sudah kompatibel dengan jenis bahan yang akan diwarnai. Sales/Suplayer zat warna biasanya menyertakan panduan penggunaan produk termasuk jenis bahan yang dapat diwarnai, resep optimal penggunaan, dan zat-zat pembantu pencelupan lain yang disarankan digunakan. Jadi daya serap zat warna pada saat pencelupan bisa meningkat. Hanya saja untuk bahan tertentu misalnya bahan kapas, memiliki keunikan tersendiri.

Bentuk serat kapas arah memanjang yang seperti pita dipuntir-puntir dan bentuk penampangnya seperti ginjang dengan rongga ditengahnya dapat diubah penampang memanjangnya menjadi lebih gemuk dan bulat sehingga luas permukaan seratnya menjadi lebih banyak. Hal ini menambah kemampuan kapas untuk menyerap zat warna lebih banyak daripada biasanya. Treatmen pada kapas ini disebut dengan proses merserisasi.

Tinggalkan Balasan